Penggerakan Dakwah (Actuating)
Dosen Pembimbing: Drs. H. Muhamad Nafi’
Oleh: Abu Hasan dan Makrus Ali
A. Pendahuluan
Usaha untuk menyebarluaskan Islam di tengah-tengah kehidupan umat manusia adalah usaha dakwah, yang dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun harus dilaksanakan oleh umat islam. Penyelenggaraan usaha dakwah islam pada masa depan akan semakin bertambah berat. Hal ini disebabkan karena masalah-masalah yang dihadapi oleh dakwah semakin berkembang.
Penyelenggaraan dakwah akan dapat berjalan secara efektif dan efesien, apabila terlebih dulu dapat mengidentifikasi dan mengantisipasi masalah-masalah yang akan dihadapi. Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, kemudian menyusun rencana yang tepat, mengatur dan mengorganisir para pelaksana dakwah dalam kesatuan- kesatuan tertentu, selanjutnya mengerahkan dan menggerakkannya pada tujuan yang dikehendaki, begitu pula kemampuan untuk mengawasi.
Secara global, makalah ini membahas tentang penggerakan da’wah yang merupakan sebuah fungsi penting dalam management da’wah. Dalam makalah yang singkat ini, tentu terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Kritik dan saran yang membangun selalu dinantikan oleh penulis.
B. Pembahasan
Penggerakan adalah suatu usaha membujuk orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas dalam rangka mencapai tujuan suatu organisasi. Penggerakan juga dapat didefinisikan sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik dan metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerjasama dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dengan efektif, efisien, dan ekonomis[1]. Penggerakan diarahkan untuk merangsang anggota-anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas secara antusias dan penuh semangat sebagai wujud dari kemauan yang baik .
Dengan demikian, penggerakan merupakan fungsi yang tidak terpisahkan dengan pemberian motivasi kepada seluruh anggota organisasi agar mereka mau dengan semangat dan keinginan sendiri bekerja demi tercapainya tujuan organisasi. Seorang pemimpin dalam hal ini harus mempunyai cara-cara tertentu dalam memberikan motivasi kepada anggota organisasi yang dipimpinnya.
Yang dimaksud dengan penggerakan dakwah adalah meminta pengurbanan para pelaksana untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka da’wah. Hal ini hanya mungkin terjadi bila pemimpin da’wah (da’i) mampu memberikan motivasi, bimbingan, mengkoordinir dan menjalin pengertian diantara mereka serta selalu meningkatkan kemampuan dan keahlian mereka[2].
Dalam proses da’wah, penggerakan da’wah (Actuating) mempunyai arti dan peranan yang sangat penting. Sebab, diantara fungsi management da’wah lainya, penggerakan merupakan fungsi yang secara langsung berhubungan dengan teknis pelaksanaan[3]. Maka, dengan adanya fungsi penggerakan inilah ketiga fungsi da’wah yang lain – Planing, Organizing and Controlling – baru akan efektif.
Pengorganisasian da’wah (Organizing), baru akan dapat terealisasi apabila ada tenaga pelaksana. Tanpa adanya tenaga pelaksana, maka pengorganisasian yang di atas kertas baik, tentu tidak akan terlaksana. Disinilah fungsi penggerakan yang berperan sebagai pendorong tenaga pelaksana untuk menjalankan organisasi tersebut. Maka pengorganisasian da’wah baru dapa terealisasikan, bukan sekedar baik di atas kertas saja.
Terdapat 5 langkah dalam penggerakan da’wah yang perlu di perhatikan oleh da’i (pemimpin):
- Motivasi (Motivating)
- Pembimbingan (Directing)
- Penjalinan hubungan (Interaksi Sosial)
- Penyelenggaraan komunikasi (Communicating)
- Pengembangan atau peningkatan pelaksana (Developing people).
a. Motivasi (Motivating)
Istilah motif mengacu pada sebab atau mengapa seseorang berperilaku. Dari kata motif ini terbentuk kata motivasi. Seperti yang dikutip oleh Ngalim Purwanto menjelaskan bahwa:
“ motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks didalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku ke suatu tujuan atau perangsang”.[4]
Suatu organisme yang dimotivasi akan melakukan aktifitasnya secara lebih giat dan lebih efisien dibandingkan dengan organisme yang beraktifitas tanpa motifasi. Selain itu, motifasi cenderung mengarahkan kepada suatu tingkah laku tertentu[5].
Pemberian motivasi merupakan salah satu aktifitas yang harus dilakukan oleh pimpinan da’wah dalam rangka pergerakan da’wah. Persoalan penting dalam pemberian motivasi adalah bagaimana para pelaku atau pelaksana da’wah bersedia melaksanakan segala tugas da’wah yang diembanya secara tulus, ikhlas, dan senang hati.
Melihat sisi psikologis manusia yang berbeda-beda, ada beberapa cara untuk membangkitkan semangat kerja dan pengabdian. Diantaranya adalah:
§ Mengikut sertakan dalam proses pengambilan keputusan;
§ Memberikan informasi yang lengkap;
§ Memberikan penghargaan terhadap sumbangan yang telah diberikan.
§ Menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan;
§ Penempatan yang tepat;
§ Pemberian wewenang.
b. Pembimbingan (Directing).
Selain memberikan motivasi untuk melakukan tugas-tugas da’wah, para pelaksana juga perlu dibimbing dan dijuruskan kearah pencapaian sasaran da’wah yang telah ditetapkan. Sebab pimpinan da’wah adalah orang yang dapat melihat medan secara lebih luas dan mengetahui jalan-jalan mana yang harus ditempuh[6].
Pembimbingan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap pelaksana dilakukan dengan jalan memberikan perintah atau petunjuk yang bersifat mempengaruhi dan menetapkan arah tindakan mereka. Sebab kepemimpinan dalam da’wah adalah sifat dan ciri tingkah laku pemimpin yang mengandung kemampuan untuk memengaruhi dan mengarahkan daya kemampuan seseorang atau kelompok guna mencapai tujuan da’wah yang telah ditetapkan sehingga terciptalah suatu dinamika dikalangan pengikutnya yang terarah dan bertujuan. Maka atas dasar ini usaha-usaha da’wah akan berjalan dan terealisasikan dengan baik dan efektif bilamana pimpinan da’wah dapat memberikan perintah-perintah yang tepat[7].
c. Penjalinan hubungan (Interaksi Sosial).
Dalam sebuah organisasi dibutuhkan sebuah keharmonisan antara pemimpin dan pelaksana. Untuk menjamin terwujudnya harmonisasi dan sinkronisasi dalam usaha-usaha da’wah, diperlukan adanya penjalinan hubungan atau koordinasi untuk mencegah terjadinya kekacauan, kekembaran, kekosongan, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu dalam rangka pencapaian sasaran da’wah dibutuhkan kesadaran bagi semua komponen dalam organisasi.
Ada beberapa cara dalam menjalin hubungan antara para pelaksana da’wah satu dengan yang lainya:
§ Menyelenggarakan permusyawaratan;
§ Wawancara dengan para pelaksana;
§ Buku pedoman dan tata kerja;
§ Memo berantai[8].
d. Penyelenggaraan komunikasi (Communicating).
Komunikasi antara pemimpin dan pelaksana merupakan hal yang sangat penting bagi kelancaran proses da’wah. Da’wah akan terganggu dan bahkan gagal apabila terjadi ketidak perayaan dan saling mencurigai antara pimpinan dan pelaksana atau antara pelaksana dengan pelaksana lain. Misalnya, perintah pemimpin tidak akan dijalankan oleh pelaksana apabila tidak ada rasa saling percaya diantara mereka. Akibatnya segala tugas da’wah tidak akan terlaksana, dan akhirnya kegiatan da’wah menjadi tidak efektif.
Komunikasi antara pimpinan dan pelaksana dapat berjalan dengan efektif apabila memperhatikan hal-hal sebagai berikut[9]:
§ Memilih informasi yang akan dikomunikasikan;
§ Mengetahui cara-cara menyampaikan informasi;
§ Mengenal dengan baik penerima komunikasi;
§ Membangkitkan perhatian pihak penerima komunikasi.
e. Pengembangan atau peningkatan pelaksana (Developing people).
Pengembangan atau peningkatan pelaksana mempunyai arti penting dalam proses da’wah, sebab dengan adanya usaha memperkembangkan para pelaksana, yang berarti kesadaran, kemampuan, keahlian dan ketrampilan para pelaku da’wah itu ditingkatkan dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman, maka proses penyelenggaraan da’wah diharapkan berjalan secara efektif dan efisien.
Da’wah Islam dimasa kini, lebih-lebih dimasa depan memerlukan para pendukung yang disamping memiliki iman dan kesadaran yang tinggi, juga mempunyai kemampuan, keahlian, dan ketrampilan yang cukup. Oleh sebab itu pimpinan da’wah harus selalu mengadakan penilaian terhadap kemampuan dan kecakapan para pelaksana da’wah dan berusaha meningkatkan serta mengembangkan tugas-tugas da’wah yang dihadapi[10].
Ada beberapa usaha dalam mengembangkan sumber daya pelaksana da’wah beekaitan dengan peningkatan kualitas yang meliputi pola pikir, wawasan dan ketrampilan[11]:
§ Peningkatan wawasan intelektual dan kreatifitas pelaksana da’wah dalam ketrampilan dan keilmuan yang relevan;
§ Peningkatan wawasan dan pengalaman spiritual pelaksana da’wah yang direfleksikan dalam kematangan sikap mental, kewibawaan, dan akhlakul karimah;
§ Peningkatan wawasan tentang ajaran Islam secara komprehensip dan integral;
§ Peningkatan wawasan tentang kebangsaan, kemasyarakatan, dan hubungan intern serta ekstern umat beragama sehingga tercermin sikap toleran.
C. Simpulan
Dakwah sebagai agen perubahan, perbaikan, dan pembaharuan, maka dakwah tidak mungkin dapat dilakukan hanya oleh orang seorang saja secara sendiri-sendiri dan secara sambil lalu, tetapi harus diselenggarakan oleh para pelaksana dakwah dengan cara bekerjasama dalam kesatuan-kesatuann yang teratur dan rapi dalam suatu organisasi/lembaga dakwah.
Kemudian dari itu, mereka yang telah diatur dan diorganisir, lalu digerakkan dan diarahkan pada sasaran-sasaran atau tujuan dakwah yang dikehendaki.
D. Daftar Pustaka
Agus dan Asep. Metode Pengembangan Dakwah. 2002. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Faizah dan Lalu Muchsin Effendi. Psikologi Da’wah. 2006. Jakarta: Kencana.
Saleh, Rosyad. Management Da’wah Islam. 1977. Jakarta: Bulan Bintang.
Perbedaan antara pergerakan dan penggerakan.
Apakah ada kode etik dalam penggerakan dakwah?
Perjelas communicating dan interaksi social.
[2] Drs. A.Rosyad Salaeh. Management Da’wah Islam. 1977. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm. 113
[4] Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan. Hlm 60
[5] Faizah dan Lalu Muchsin Effendi. Psikologi Da’wah. 2006. Jakarta: Kencana. Hlm. 103.
[6] A. Rasyad Saleh Op. Cit. hlm. 128
[7] Faizah dan Lalu Muchsin Effendi Op. Cit. hlm. 170
[8] A. Rasyad Saleh Op. Cit. hlm. 134-136
[10] Ibid. hlm. 142.
[11] H. Agus dan H. Asep. Metode Pengembangan Dakwah. 2002. Bandung: CV. Pustaka Setia. Hlm. 138.
0 Responses to "Penggerakan Dakwah (Actuating)"