Kerajaan Turki Utsmani, Kerajaan Safawi, dan Kerajaan Mongol

Kerajaan Turki Utsmani, Kerajaan Safawi, dan Kerajaan Mongol
Oleh: Abu Hasan Suyuti
  1. Dinasti Usmani di Turki
Kerajaan atau dinasti Usmani terbentuk pada tahun 300 M. Rajanya yang pertama adalah Usman I. Kerajaan Usmani berkuasa kurang lebih selama 700 tahun dengan 36 sultan. Kerajaan Usmani merupakan kerajaan yang besar, hamper semua Negara atau kesultanan perah berinteraksi dengan kerajaan Usmani. Kerajaan Usmani lebih banyak dikenal dengan nama Turki Usmani. Hal ini dikarenakan kerajaan Usmani berpusat di Turki. Kerajaan ini berawal dari suku bangsa pengembara Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah. Kerajaan Usmani merupakan satu dari tiga kerajaan besar Islam pada abad pertengahan selain kerajaan Safawi dan Mongol.
Secara garis besar, kerajaan Usmani dapat dibagi menjadi 5 periode.
a.       Periode pertama, yakni masa dimana pembentukan Negara dan Expansi pertama berlangsung. Pada masa ini, kerajaan Usmani mengalami empat kali pergantian sultan, yakni mulai tahun 699-817 H/1299-1430 M.

b.      Periode kedua, yakni masa dimana kerajaan Usmani mencapai masa kejayaan. Kemajuan yang dilakukan terletak pada laju pertumbuhan Negara dan pembenahan Negara serta expansi secara besar-besaran.  Periode ini berlangasung selama satu setengah abad, mulai tahun 1430-1580 dengan enam sultan.
c.       Periode ketiga, masa dimana kerajaan Usmani mempertahankan wilayah kekuasaan agar tidak jatuh ke Negara lain. Namun akhirnya Hongaria lepas. Masa ini berlangsung kurang lebih 123 tahun, mulai 1580-1703 M dengan sebelas Sultan.
d.      Periode keempat, masa dimana wilayah kekuasaan Negara mulai jatuh ke tangan Negara lain. Masa ini berlangsung kurang lebih berlangsung selama 136 tahun, mulai tahun 1703-1839 M, dengan Sembilan sultan.
e.       Periode kelima, masa bangkitnya kebudayaan dan administrasi Negara yang dipengaruhi oleh ide-ide barat. Periode ini berlangsung selama kurang lebih 83 tahun, mulai tahun 1839-1922 M dengan enam sultan.
Pemerintahan kerajaan Usmani, memperlihatkan pemerintahan yang asasi dari Negara Islam dan masyarakat Islam. Seluruh pemerintahan dan sisetem Negara berdasarkan hukum Islam. Islam memberikan legitimasi ideologi politik dan hukum, informasi kepada lembaga-lembaga pemerintahan yang terpandang penting.
Sistem pemerintahan kerajaan Usmani, dipimpin oleh seorang pemimpin yang bergelar sultan dan khalifah sekaligus. Sultan berkuasa dibidang duniawi, sedangkan khalifah berkuasa dibidang agama/ukhrawi. Dibawah sultan terdapat seorang Mufti atau yang dikenal dengan Syaikhul Islam dan Shadrul-A’dham. Syaikhul Islam bertugas membantu Sultan/khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya, sedangkan Shadrul-A’dham mewakili Sultan/khalifah dalam melaksanakan wewenang dunianya. Shadrul-A’dham membawahi seorang Pasya (gubernur) yang mengepalai daerah tingkat I. di bawah Pasya terdapat seorang bupati.
Dalam bidang perekonomian, kerajaan Usmani juga telah mengatur perdagangan dengan Negara lain. Bahkan, konon para pedagang harus bergaransi mengirimkan persediaan secara langsung kepada istana dan ibu kota dengan harga yang telah ditentukan.
Meskipun kerajaan Usmani berkuasa cukup lama, namun hal ini tidak menjamin bahwa peradabanya maju pesat seperti dinasti Abbasiyah. Hal ini dikarenakan politik ekspansi yang tidak diikuti dengan pembinaan kepada wilayah yang telah dikuasai.     


B.     Kerajaan Safawi di Persi
Kerajaan Safawi pada awalnya merupakan sebuah kelompok tarikat yang didirikan oleh Syekh Ishak  Safiuddin (wafat tahun 1334). Tarikat ini merupakan sebuah gerakan agama yang sangat berpengaruh di Persia dan sekitarnya dan berpusat di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, Persia barat laut. Karena gerakan ini semakin lama semakin besar dan menyebar di berbagai penjuru Persia, maka Safiuddin menempatkan seorang wakil yang diberi gelar “Khalifah”. Nantinya wakil ini akan menjadi komandan perang.
Perlahan namun pasti, aliran tarikat ini mulai memasukan unsure politik didalamnya. Wujud konkrit dari kecenderungan untuk memasuki dunia politik nampak ketika gerakan ini dipimpin oleh Junaidi (1447-1460 M). Pada tahun 1501, Ismail ibn Haidar berhasil merebut Azerbaijan. Ismail inilah yang disebut sebagai Ismail I, penguasa pertama dinasti Safawi. Ia memerintah selama kurang lebih 23 tahun (1501-1524). Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil menaklukan seluruh Persia.
Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan oleh Tahmasp, yang memegang kekuasaan sampai 52 tahun yakni 1524-1576 M. setelah Tahmasp wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh Syah Ismail II (1576-1577) dan Syah Muhammad Khuda Banda (1577-1588).
  Puncak kejayaan kerajaan Safawi terjadi pada masa pemerintahan Abbas I (1588-1628). Secara umum ia berhasil mengatasi kemelut dan politikyang terjadi di dalam negeri serta berhasil merebut kembali daerah yang telah jatuh ke tangan Negara lain pada masa pemerintahan raja-raja sebelumnya.
Dalam segi ekonoi, pertanian kerajaan Safawi di daerah Bulan Sabit Subur memberikan pemasukan yang banyak bagi Negara. Kemajuan ekonomi ini mampu menghantarkan kemajuan dalam bidang seni, pembangunan fisik, dan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah Islam, Persia dikenal sebagai Negara yang mempunyai peradaban tinggi dan berperan dalam mengantarkan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah. Maka tidak heran ketika masa Safawi tradisi keilmuan seperti ini terus berlanjut.
Namun kemajuan yang telah dicapai oleh Abbas I tidak bertahan lama. Hal ini dikarenakan raja-raja setelah Abbas I tidak tangkas dan bijak seperti Abbas I. Secara perlahan-lahan, wilayah kekuasaan Negara mulai jatuh ke Negara lain. Hal ini dikarenakan raja-raja tersebut selain tidak cakap dan bijak, juga pemimpin yang lemah serta pemabuk. Mereka suka dengan kehidupan malam, pecandu narkoba, berperilaku sewenang-wenang dan kejam.

C.     Kerajaan Mongol di India
Kerajaan Mongol berkuasa cukup lama, yakni pada tahun 1526-1707 M (332 tahun) dengan 15 raja. Secara garis besar, kerajaan Mongol dapat dibagi menjadi 3 periode. 1. 1526-1556, 2. 1556-1707, dan 3. 1707-1858.
I.                   1526-1556.
Kerajaan Mongol didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur 1526. Awalnya pada tahun 1500, Babur merupakan penguasa Fergona di Asia Tengah. Ia menggantikan ayahnya – Umar Mirza - yang meninggal dunia. Atas bantuan dari Ismail dan kerajaan Safawi, Babur dapat menguasai Kabul pada tahun 1512, dilanjutkan dengan Lahore pada tahun 1523. Dari Lahore, Babur terus bergerak hingga mencapai Paripat dan bertemu dengan pasukan Ibrahim. Terjadilah perang Paripat pada tahun 1526 dan kemenangan berada di tangan Babur. Maka pada tahun itu ia dapat menguasai Delhi dan memproklamirkan dirinya sebagai maharaja di India.
Penghormatan dan toleransi kepada pemeluk agama lain merupakan langkah yang dilakukan oleh Babur untuk mendapatkan kepercayaan rakyat. Hal ini dilakukan karena banyak pangeran Mongol yang beribukan wanita Hindu. Banyak anggota cabinet dan kepemerintahan yang beragama Hindu. Wujud konkrit dari toleransi ini adalah dengan dilarangnya menyembelih sapi, karena hal itu merupakan penghinaan bagi Umat Hindu.
Setelah Babur meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh Humayun. Namun ia tidak mampu menghadapi gerakan Sher Khan Syah, pemimpin etnis Afgan yang bergerak dari timur. Akhirnya Kabul dan Kandahar jatuh pada kekuasaan Komron dan Ashari. Sedangkan Lahore dan Punjab jatuh ke tangan Sher Shah tahun 1539.   
II.                1556-1707
Setelah Humayun meninggal dunia, maka kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh Akbar I. Sistem pemerintahan Akbar adalah militeristik. Pemerintah pusat dipegang oleh raja. Pemerintah daerah dipegang oleh Sipah Salar atau kepala komandan. Sedangkan sub distrik dikepalai oleh Faudjar atau komandan. Di Mongol terdapat tiga jenis tentara yakni, Mansabdar adalah angkatan bersenjata kerajaan, Dakhilis atau pasukan cadangan di bawah perintah Mansabdar, dan Ahadis atau sebuah pasukan pemuda kelas pekuda.
III.             1707-1858
Setelah Aurangzeb meninggal (1707 M), kepemimpinan selanjutnya dipegang oleh putra tertuanya yang bernama Muazzam yang bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M).  Para penguasa setelah Aurangzeb tidak berdaya dan tidak mampu mengembalikan supremasi Mongol. Penyebab utama dari kemunduran Mongol adalah masa pemerintahan yang pendek dan banyaknya pemberontakan serta lemahnya kekuatan. Kekuasaan Mongol di India berakhir tahun 1858.  Selain factor utama yang telah tersebut di atas, masih terdapat factor lain seperti;
a.       Para raja yang memegang pemerintahan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
b.      Sikap Aurangzeb yang terlalu kasar dalam melaksanakan ide-ide menyebabkan konflik agama yang sukar diatasi oleh pemimin sesudahnya.
c.       Kekuatan militer tidak dibina sehingga tidak mampu memantau kekuatan militer lainya.
d.      Elite politik rendah moralnya dan hidup mewah, sehingga mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang Negara.


Daftar Bacaan

Siti Maryam dkk. 2002. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Jurusan SPI Fak. Adab IAIN Sunan Kalijaga.
Drs. Mansur, M.A. 2004. Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta: Global Utama Pustaka.   

1 Response to "Kerajaan Turki Utsmani, Kerajaan Safawi, dan Kerajaan Mongol"

  1. gravatar Anonim

    Paddy Power Casino - MapyRO
    The 원주 출장샵 casino is one of the newer 인천광역 출장마사지 casinos in 부산광역 출장샵 Australia 서산 출장안마 that currently offers a range of games in a variety of categories. It also provides a unique  Rating: 8.2/10 · ‎2,733 용인 출장샵 votes · ‎Price range: $$

Leave a Reply